Hal yang akan Terjadi Jika Bitcoin Habis Ditambang

Sementara aktivitas mining, investasi, dan trading aset kripto terus berjalan, Anda mungkin terpikir satu hal. Apa yang terjadi ketika Bitcoin habis dan kapan momen itu akan tiba?

Hal yang akan Terjadi Jika Bitcoin Habis Ditambang
Bitcoin Habis Ditambang

12 April 2009, sebuah notifikasi masuk ke dalam kotak masuk email Mike Hearn. Sebuah email balasan dari Satoshi Nakamoto.

Dalam email tersebut Nakamoto menjawab beberapa pertanyaan Hearn terkait Bitcoin. Salah satu di antaranya adalah perkiraan jumlah aset digital yang tersedia.

Dengan berpatokan pada teori yang ada dan perkembangan teknologi pada masa itu, Nakamoto memperhitungkan bahwa ada 21 juta Bitcoin yang tersedia bagi para pengguna.

Sepanjang satu dekade belakangan, jumlah Bitcoin yang telah berhasil ditambang mencapai 18,5 juta atau sekitar 88,3 persen dari total Bitcoin (BTC) yang tersedia. Sisanya, hanya berkisar 2,5 juta BTC.

Sementara aktivitas mining, investasi, dan trading aset kripto terus berjalan, Anda mungkin terpikir satu hal. Apa yang terjadi ketika Bitcoin habis dan kapan momen itu akan tiba?

Dilansir Decrypt, Blockchain Bitcoin telah dirancang dengan prinsip pasokan terkontrol. Artinya, hanya ada batasan jumlah tertentu yang bisa dicetak dan ditambang tiap tahunnya hingga mencapai angka 21 juta BTC.

Menurut perhitungan Nakamoto, berdasarkan perkembangan teknologi saat ini maka momen BTC habis akan terjadi pada 2140 mendatang. Pada masa itu, seluruh BTC telah habis ditambang dan tak akan ada lagi yang tersisa di jaringan blockchain Bitcoin.

Ada rentang waktu sekitar 120 tahun lagi sebelum seluruh BTC terakhir dicetak dan berhasil ditambang. Hal itu disebabkan oleh proses halving atau pengurangan bertahap yang terjadi setiap empat tahun sekali. Ketika halving terjadi, jumlah reward yang diterima miner berkurang setengah dari tahun-tahun sebelumnya.

Ketika pertama kali Bitcoin diluncurkan, miner mendapat hadiah sebesar 50 BTC. Pada 2012, ketika halving pertama dilakukan, jumlah tersebut berkurang setengahnya menjadi 25 BTC. Empat tahun kemudian, reward bagi miner berkurang lagi menjadi 12,5 BTC. Terakhir pada 2020, halving mengurangi besaran reward menjadi hanya 6,25 BTC saja.

Dampak Bagi Penambang

Di antara seluruh pegiat cryptocurrency, miner atau penambang adalah pihak yang paling merasakan dampak ketika Bitcoin habis.

Menurut Bitcoin Maximalist dan Co-Founder Cryptowatch Community, Danny Taniwan, semakin sedikit Bitcoin yang tersedia, makin lambat pula peredarannya.

Ketika Bitcoin sudah mulai habis, maka miner tak akan lagi mendapat income berupa reward maupun melalui airdrop. Satu-satunya income yang bisa miner dapatkan adalah transaction fee (biaya transaksi).

Mengapa? Sebab jaringan BTC tetap akan beroperasi seperti biasa.Hanya saja, tidak ada lagi Bitcoin yang tersedia, sangat berbeda dengan kondisi sebelumnya.

Di masa normal ketika stok BTC masih banyak, miners akan mendapat reward ketika berhasil menambah blok baru dalam jaringan blockchain. Penambahan blok baru tersebut dilakukan dengan memecahkan teka-teki kriptografi.

Mereka juga akan mendapatkan ‘upah’ ketika berhasil memverifikasi transaksi yang dilakukan oleh pengguna. Semain besar dan sulit transaksi yang dilakukan, imbalan yang didapatkan miners pun makin besar. Transaction fee tersebut yang akan menjadi pendapatan bagi para penambang.

Tetapi pada masa Bitcoin habis, tidak ada lagi insentif berupa BTC yang bisa didapatkan oleh miners. Sehingga ada kemungkinan, kelak transaction fee yang dikenakan pada pengguna menjadi lebih besar.

Decrypt memperhitungkan, jika di masa kini biaya transaksi hanya mencapai 3,3 persen saja dari pendapatan penambang, maka pada 2140, nominalnya bisa melonjak hingga 100 persen.

Dampak Bagi Pasar Kripto dan Investasi

Menurut News Bitcoin, ada dua kondisi yang akan terjadi ketika Bitcoin habis. Kondisi pertama adalah ukuran blok yang terus bertambah. Dalam kasus ini, pengguna bisa mendapatkan biaya transaksi yang lebih rendah.

Sayangnya, kondisi tersebut dapat menyulitkan miners. Sebab, mereka terpaksa bertahan hidup hanya dengan mengandalkan transaction fee dari pengguna. Terutama setelah reward BTC ditiadakan karena habisnya stok Bitcoin.

Kondisi kedua adalah ukuran blockchain yang tak dapat diperbesar. Tiap blockchain memiliki batas maksimum. Ketika jaringan blockchain mencapai batas maksimal dan tak bisa ditambah, maka tidak ada ruang kosong bagi transaksi baru yang butuh dikonfirmasi. Sehingga kelebihan catatan transaksi akan dihapus dari jaringan.

Skenario itu memungkinkan pengguna untuk meningkatkan nominal pembayaran mereka agar verifikasinya dapat didahulukan.

Besarnya biaya transaksi itu akan membuat orang-orang enggan untuk menggunakan Bitcoin. Hasilnya, Bitcoin di masa depan dapat mati dengan mudah dan lebih cepat ketimbang jaringan keuangan yang menganut sistem sentralisasi.

Selain kedua skenario di atas, habisnya Bitcoin akan menyebabkan kelangkaan di pasar. Tingginya permintaan dan rendahnya penawaran Bitcoin akan membuat harga aset kripto ini meningkat.

Bagi investor, kabar ini tentu saja menjadi angin segar. Sebab kenaikan yang ekstrem dan penurunan yang dramatis menjadi peluang apik untuk berinvestasi.