Perbedaan Psikolog dan Psikiater, Jangan Sampai Salah!

Jangan sepelekan gangguan mental atau kejiwaan seseorang, karena akan berdampak pada kehidupan sehari-hari penderitanya.

Perbedaan Psikolog dan Psikiater, Jangan Sampai Salah!
Perbedaan Psikolog dan Psikiater

MPOTIMES - Jangan sepelekan gangguan mental atau kejiwaan seseorang, karena akan berdampak pada kehidupan sehari-hari penderitanya. Segeralah datang ke ahli psikolog atau psikiater, untuk mendapat bantuan. Tapi, apa sih perbedaan psikolog dan psikiater?

Melansir dari hellosehat, pada 2017 lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa ada lebih dari 300 juta orang di dunia yang mengalami depresi, dan 260 juta lainnya menderita gangguan kecemasan.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) pun menyebutkan dari 250 juta total populasi orang Indonesia, 9 juta di antaranya memiliki depresi, 14 juta orang memiliki gejala depresi dan gangguan kecemasan, dan sekitar 400 ribu orang mengidap skizofrenia.

Angka di lapangan mungkin bisa lebih banyak lagi karena tidak semua orang menyadari mereka punya gangguan kesehatan mental.Melansir dari hellosehat, pada 2017 lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa ada lebih dari 300 juta orang di dunia yang mengalami depresi, dan 260 juta lainnya menderita gangguan kecemasan.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) pun menyebutkan dari 250 juta total populasi orang Indonesia, 9 juta di antaranya memiliki depresi, 14 juta orang memiliki gejala depresi dan gangguan kecemasan, dan sekitar 400 ribu orang mengidap skizofrenia.

Angka di lapangan mungkin bisa lebih banyak lagi karena tidak semua orang menyadari mereka punya gangguan kesehatan mental.

Lantas, jika seseorang mengalami gejala penyakit jiwa, konsultasi yang tepat pergi ke psikolog atau psikiater?

Padahal psikiater dan psikolog sama-sama seorang praktisi kesehatan yang dilatih untuk membantu menangani masalah kesehatan mental seseorang.

Simak dulu yuk penjelasaan dari perbedaan psikolog dan psikiater ini, agar kamu tidak keliru.

Perbedaan Psikolog dan Psikiater

Berikut Mpo Times merangkum perbedaan psikilog dan psikiater agar kamu tahu bantuan mana yang lebih tepat dari permasalahanmu:

1. Pendidikan

Perbedaan psikolog dan psikiater pertama dilihat dari pendidikannya. Seorang psikologi berlatar belakang pendidikan bidang Ilmu Psikologi.

Pada bidang ini, psikolog menangani kasus-kasus kejiwaan, mendiagnosis gejala psikologis pasien, dan melakukan psikoterapi sebagai bentuk penanganannya.

Itu sebabnya, psikolog berkompeten untuk melakukan beberapa tes psikologi kemudian hasilnya diinterpretasikan sebagai jawaban dari masalah yang dialami oleh pasiennya.

Beberapa tes yang bisa dilakukan oleh seorang psikolog antara lain tes IQ, minat bakat, tes kepribadian dan lain sebagainya.

Sayangnya, psikolog tidak bisa meresepkan obat-obatan, karena dalam menangani kasus kejiwaan mereka berfokus pada terapi psikososial untuk mengendalikan perilaku, pikiran, dan emosi pasien.

Sedangkan seorang psikiater, berlatar belakang pendidikan kedokteran dan mengambil spesialis kejiwaan. Pasalnya psikiater masuk dalam spesialisasi ilmu kedokteran.

Seorang psikiater mengetahui segala hal tentang diagnosis dan perawatan yang bisa dilakukan untuk setiap kondisi psikologis setiap pasien yang cenderung rumit, seperti gangguan bipolar dan skizofrenia.

Keahlian para psikiater difokuskan pada ketidakseimbangan kimia di dalam otak manusia.

Oleh sebab itu, psikiater bisa memberikan resep dan terapi obat-obatan (farmakoterapi), terapi stimulasi otak, pemeriksaan fisik dan laboratorium sesuai dengan kebutuhan para pasien.

2. Pendekatan dan Penanganan Pasien

Perbedaan psikolog dan psikiater kedua, dilihat dari cara pendekatan dan penanganan pasien. Psikolog dan psikiater terlatih untuk psikoterapi – berbicara dengan pasien tentang masalah mereka.

Psikolog akan menganalisa dari dekat mengenai perilaku kamu. Psikolog akan melacak pola tidur, pola makan, dan pikiran negatif yang mungkin menyebabkan atau berkontribusi terhadap masalah tersebut.

Psikolog akan lebih condong ke penanganan psikologis saja, berdasarkan perilaku, pemikiran, dan emosi yang ditunjukkan oleh pasien.

Sedangkan psikiater, menggunakan pendekatan diagnosis eksklusi. Seperti, memastikan pasien tidak kekurangan vitamin atau masalah tiroid sebelum di diagnosa kesehatan mentalnya.

Setelah mendapat diagnosa, biasanya psikiater akan meresepkan obat-obatan untuk kamu konsumsi secara rutin.

Psikiater umumnya akan memeriksa kesehatan fisik pasiennya terlebih dahulu untuk mengetahui ada tidaknya kondisi medis yang dapat mempengaruhi kesehatan mental pasien.

Setelah itu, baru psikiater memberikan diagnosis dan medikasi yang sesuai. Sebab, ada diagnosa kejiwaan yang berasal dari kelainan pada organ otak atau persarafan.

3. Kondisi Pasien

Perbedaan psikologi dan psikiater ketiga, dilihat dari kondisi pasien. Jika gangguan psikologis masih cenderung ringan, maka pasien bisa mencoba mendatangi psikolog.

Psikologi biasanya menangani gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, masalah perilaku, masalah rumah tangga, hingga kesulitan belajar.

Namun, jika gangguan mental yang dialami pasien sudah berat dan kompleks, biasanya psikolog akan merujuk pasien ke psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan medikasi.

Psikiater umumnya menangani pasien yang mengalami gangguan bipolar, depresi parah, dan skizofrenia.

Penderita gangguan mental yang sampai menyakiti diri sendiri, berpikir untuk bunuh diri bahkan melakukan percobaan bunuh diri akan ditangani oleh psikiater.

Biasanya psikiater meresepkan obat seperti antidepresan, obat antipsikotik, penstabil suasana hati, stimulan, dan obat penenang.

4. Dua Profesi Saling Melengkapi

Perbedaan psikolog dan psikiater sebenarnya tidak seharusnya dibanding-bandingkan, karena keduanya biasa bekerja sama untuk memberikan penanganan yang tepat kepada pasiennya.

Misalnya, pasien bisa berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan penanganan pengubahan perilaku dan pikiran, setelah itu mendatangi psikiater untuk mendapatkan tindakan lebih dalam seperti diagnosis dan medikasi.

Pada dasarnya, semuanya tergantung dari permasalahan psikologis yang dialami oleh pasien. Pasien bisa mengunjungi dokter umum terlebih dahulu dan nantinya dokter umum yang akan merujuk dan menyarankan lebih baik mendatangi psikolog atau psikiater.

Kesimpulannya, psikolog menawarkan intervensi perilaku dan pola pikir dan psikiater mendukungnya dengan menyediakan pengobatan medis untuk mengatasi gejala pasien.

Kedua profesi ini memiliki edukasi dan pelatihan, serta cara menangani pasien yang berbeda. Namun, mereka bisa saling melengkapi untuk memberikan pertolongan terbaik bagi penderita gangguan mental.

Tips Mencegah Depresi

Melansir laman Psychiatry.org depresi dapat menyebabkan berbagai masalah emosional dan fisik serta dapat menurunkan kemampuan seseorang di tempat kerja dan di rumah. Berikut upaya pencegahan depresi dari beberapa gaya hidup yang bisa kamu coba terapkan:

  • Sinar matahari, khususnya pagi hari karena bisa mempengaruhi suasana hati. Bahkan, menurut ilmuwan sinar matahari lebih berhasil daripada obat anti-depresi.
  • Olahraga, Aerobik merupakan salah satu olahraga terbaik dalam menangani depresi. Jadi, cobalah mulai dari berjalan kaki 30 menit setiap pagi.
  • Dukungan Sosial, kontak sosial tak hanya mampu mengurangi depresi, tapi penelitian juga mengatakan bisa mencegah penyakit jantung.
  • Kurangi Waktu Bermain Sosial Media, Penelitian telah menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan media sosial dapat menyebabkan atau berkontribusi pada depresi dan rendahnya harga diri.
  • Tinggalkan Toxic Circle/Person, adapun studi yang menemukan bahwa interaksi sosial yang negatif dikaitkan dengan kadar dua protein yang lebih tinggi yang dikenal sebagai sitokin. Kedua protein ini berhubungan dengan kondisi peradangan dan juga depresi.
  • Tidur Cukup dan Berkualitas, berpengaruh bagi kesehatan mental dan fisik. Menurut National Sleep Foundation orang dengan insomnia memiliki risiko sepuluh kali lipat mengalami depresi.
  • Makan Sehat dan Bergizi, adapun penelitian yang menyatakan bahwa mengkonsumsi makanan tinggi lemak secara teratur dapat memiliki efek yang sama dengan stres kronis dalam hal menyebabkan depresi.


Selain itu, diet yang tidak sehat juga dapat menghilangkan nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.

Nah, itu dia ulasan lengkap mengenai perbedaan psikolog dan psikiater beserta tips pola hidup agar kamu terhindar dari depresi.

Jika kamu merasakan gejala gangguan mental atau kejiwaan tidak sehat sehingga berpengaruh pada aktivitas sehari-hari.

Jangan malu dan ragu untuk segera minta bantuan ke ahli kejiwaan seperti psikolog dan psikiater agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat ya.

Jika masih bingung, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter umum terlebih dahulu untuk diberikan pemeriksaan fisik dan rujukan ke psikolog atau psikiater tertentu.

Namun, jika kamu malas keluar rumah, mengantre atau terjebak macet. Kamu bisa memanfaatkan aplikasi konsultasi kesehatan digital yang saat ini digandrungi generasi millenial, seperti Halodoc.

Halodoc telah bekerjasama dengan sekitar 20 ribu dokter umum dan spesialis yang telah memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktek (SIP) dari Konsili Kedokteran Indonesia (KKI).

Selain untuk konsultasi, aplikasi ini juga bisa memenuhi kebutuhan kesehatan kamu seperti memilih dan memesan obat-obatan di apotik-apotik ternama.

Jadi, kamu tidak perlu khawatir mengenai kredibilitas, kenyamanan, dan keamanan dari aplikasi ini. Metode pembayaran aplikasi ini bisa menggunakan kartu kredit loh. Mudah dan praktis bukan?