Eksperimen Gagal Bola Basket Pada Olimpiade 1936 - Kisah Suram Cabor Populer

Eksperimen Gagal Bola Basket Pada Olimpiade 1936 - Kisah Suram Cabor Populer. Kejadian ‘berharga’ yang mulai dilupakan.

Eksperimen Gagal Bola Basket Pada Olimpiade 1936 - Kisah Suram Cabor Populer
Eksperimen Gagal Bola Basket Pada Olimpiade 1936 - Kisah Suram Cabor Populer

MPOTIMES - Eksperimen Gagal Bola Basket Pada Olimpiade 1936 - Kisah Suram Cabor Populer. Kejadian ‘berharga’ yang mulai dilupakan.

Olimpiade sering menggelar cabang olahraga baru demi menyemarakkan warna turnamen. Pada Tokyo 2020 contohnya, selancar, karate, skateboarding, serta panjat dinding dipertandingkan.

Ternyata eksperimen yang sama kerap dilakukan di masa awal penyelenggaraan turnamen empat tahunan tersebut. Cabang olahraga yang populer saat ini sudah menjalani masa orientasi. Salah satu eksperimental yang memunculkan kontroversi yaitu cabor bola basket.

Sejak diuji di tahun 1904, basket kemudian secara resmi menyediakan medali pada Olimpiade Berlin 1936. Saat itu terdapat 23 tim yang ikut serta, paling tinggi di antara cabang olahraga tim. Akan tetapi, cuma 21 yang berkompetisi, sebab Spanyol dan Hungaria batal turut serta.

Eksperimen Gagal Bola Basket Pada Olimpiade 1936 - Kisah Suram Cabor Populer (Itstarted with alook)

Tapi, persoalan mengemuka saat Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) dan Komite Olimpiade Internasional (IOC) menjalankan sebuah uji coba. Mereka melangsungkan laga di tempat out door.

Hal ini justru bertentangan dengan alasan James Naismith yang menciptakan bola basket pada tahun 1891 untuk menghindari hal tersebut. Naismith menciptakan olahraga ini supaya laga tetap dapat digelar meski cuaca sedang buruk. 

Dia menyaksikan betapa tidak mudahnya siswa melakukan olahraga ketika musim dingin menghampiri Universitas Springfield, New England, Amerika Serikat, tempat Naismith menjalani pekerjaan sehari-hari.

Eksperimen Gagal Bola Basket - Sempat Dilakukan Di Lapangan Tenis

Eksperimen gagal bola basket juga sempat dilakukan di lapangan tenis. Hasilnya tidak semenarik cabang olahraga populer tersebut saat ini.

Tidak cuma di luar ruangan, FIBA dan IOC juga melakukan eksperimen dengan menggelar laga bola basket Olimpiade tahun 1936 di lapangan tenis. Lapisan bukan keras tapi tanah liat dan rumput.

Hasilnya bisa diprediksi. Alih-alih bisa memasukkan bola, pemain terlihat sulit mendekati keranjang di sisi lain lapangan, sebab bola tidak mudah dipantulkan.

Cuma satu kali tim bisa menciptakan minimal 50 poin. Amerika Serikat (AS) melakukannya pada saat menumbangkan Filipina dengan angka 56-23 di babak perempat final.

Eksperimen Gagal Bola Basket Pada Olimpiade 1936 - Kisah Suram Cabor Populer (della storia del basket)

Skor tersebut berlawanan saat bola basket masih jadi ajang eksibisi atau uji coba pada gelaran Olimpiade tahun 1904. Pada waktu itu ada tim (Buffalo German YMCA) yang menciptakan 97 poin dalam satu laga.

Baca Juga Bintang Basket NBA Kevin Durant Trending Setelah Dikerjai Kontingen Olimpiade AS

Amerika Serikat akhirnya meraih medali emas setelah mengalahkan Kanada dengan angka 19-8. Laga digelar di saat hujan deras dengan kondisi lapangan hampir seperti rawa. Joe Fortenberry menjadi penghasil angka paling banyak, yaitu tujuh angka.

Baca Juga Indonesia Berpeluang Mempunyai Pemain NBA

Kemenangan Amerika Serikat atas Kanada di pertandingan tersebut sekaligus menjadi skor paling rendah pada laga final basket Olimpiade.

FIBA dan IOC kemudian sadar melakukan kesalahan. Bola basket lalu digelar kembali di dalam ruangan mulai Olimpiade London 1948.

Amerika Serikat kembali menunjukkan dominasi dengan meraih 16 emas dari 20 turnamen, termasuk merengkuh juara di tujuh edisi pertama.