Menyaksikan Timnas Indonesia Bertanding Di Final Piala AFF Adalah Wujud Mencintai Paling Tinggi

Menyaksikan Timnas Indonesia Bertanding Di Final Piala AFF Adalah Wujud Mencintai Paling Tinggi. Tapi benarkah timnas kita layak dicintai paling tinggi?

Menyaksikan Timnas Indonesia Bertanding Di Final Piala AFF Adalah Wujud Mencintai Paling Tinggi
Menyaksikan Timnas Indonesia Bertanding Di Final Piala AFF Adalah Wujud Mencintai Paling Tinggi (voi.id)

MPOTIMES - Menyaksikan Timnas Indonesia Bertanding Di Final Piala AFF Adalah Wujud Mencintai Paling Tinggi. Tapi benarkah timnas kita layak dicintai paling tinggi?

Tingkat cinta tertinggi itu ketika menyaksikan timnas negara Kamu dibantai dengan skor 4-0, tanpa perlawanan berarti, dan tetap menontonnya sampai selesai, menyaksikan tim lawan bersukacita merayakan kemenangan, serta menyaksikan raut-raut kepedihan yang muncul di muka pemain timnas Kamu.

Saya sepakat bahwa mencintai apapun tidak boleh berlebihan, kecuali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Termasuk tidak boleh berlebihan dalam mencintai timnas sepak bola Indonesia.

Terlalu berlebihan dalam mencintai timnas kita, akan membuat kita memiliki harapan besar kepada timnas. Dan jika gagal, maka kita akan larut dalam kesedihan. 

Bahkan tak jarang ada saudara setanah air yang menghujat timnas di kala mereka kalah, karena tidak memenuhi ekspektasi para pecinta sepak bola dalam negeri.

Padahal sebelumnya, mereka dielu-elukan bagaikan pahlawan yang seakan-akan manusia yang tak punya cela dan ‘wajib’ memenuhi ekspektasi para penggemar.

Nyesek rasanya menyaksikan tim nasional Indonesia dihajar tanpa ampun oleh Thailand dengan skor 4-0 tanpa balas sama sekali di leg pertama semifinal Piala AFF.

Boleh saja kita bersedih atas hasil tersebut, namun jangan terlalu larut dalam kesedihan, ingat, ini cuma olahraga. Ada kehidupan nyata yang perlu kita jalani.

Harapan Melihat Pemain Kita Angkat Trofi Setelah Menang Di Final Piala AFF

Setelah laga ini, harapan saya untuk melihat pemain kita angkat trofi setelah menang di Final Piala AFF Suzuki harus saya kubur dalam-dalam. Meski masih ada leg kedua, namun rasanya nyaris mustahil untuk bisa membalikkan keadaan.

Thailand bermain nyaris tanpa cela. Bola seakan lengket di kaki mereka, hampir tidak ada salah umpan, dan mereka seolah selalu bisa membaca celah kosong dari pemain-pemain kita, termasuk di jantung pertahanan.

Sebaliknya, para pemain kita seperti kebingungan untuk mengoper bola ke mana. Dan setiap mengoper, selalu saja ada pemain Thailand yang langsung memotong, kemudian melakukan tekanan ke area pertahanan Indonesia.

Sebenarnya ada sejumlah peluang emas yang diciptakan pemain merah putih, namun sayangnya tak mampu dikonversi menjadi gol, karena bola melayang tinggi di udara, maupun ditepis oleh kiper tim Gajah Perang.

Harapan saya di leg kedua nanti, semoga tidak banyak gol yang masuk ke gawang Nadeo Argawinata. Syukur-syukur bisa menang lawan Thailand saja sudah lebih dari cukup, tanpa perlu harus juara.

Namun, bagaimanapun, kita tetap perlu memberikan apresiasi yang tinggi kepada skuad Garuda, terutama coach Shin Tae-yong. Sang pelatih mampu meningkatkan performa timnas Indonesia setelah hancur berantakan di kualifikasi Piala Dunia 2022.

Ingat, di babak penyisihan skuad Merah Putih bisa bermain imbang menghadapi Vietnam yang 4 tahun terakhir mendominasi Asia Tenggara, dan juga membantai timnas kita 4-0 di kualifikasi World Cup 2022, pertengahan tahun lalu.

Selain itu, kita juga kembali di atas Malaysia dengan menggeprek mereka dengan skor 4-1 di babak penyisihan. Padahal di babak kualifikasi Piala Dunia 2022, Garuda sempat mereka bantai 3-0.

Selain itu, hal yang membuat kita perlu optimis adalah fakta bahwa skuad yang dibawa Shin Tae-yong di AFF kali ini merupakan skuad termuda dari 10 kontestan.

Rata-rata pemain Indonesia adalah berusia 23 tahun ke bawah. Hanya beberapa pemain saja yang usianya di atas 23 tahun. 

Dengan skuad yang rata-rata diisi pemain muda saja kita sudah mampu menembus babak final AFF Cup, maka 2-4 tahun ke depan kita berpotensi menjadi yang terbaik di Asia Tenggara.

Hal itu karena para pemain muda yang saat ini berada di timnas telah berkembang lebih jauh secara skill, dan lebih kompak satu sama lain. 

Baca Juga Usai Taklukkan Singapura, Garuda Siap Masuki 'Drama' Baru Menghadapi Gajah Perang

Baca Juga Asnawi Melakukan Provokasi - Tapi Singapura Menciptakan Provokasi Lebih Dulu