Sinopsis Buku "The Italian Job", Pandangan Gianluca Vialli Atas Sepakbola Italia Dan Inggris

Sinopsis Buku "The Italian Job", Pandangan Gianluca Vialli Atas Sepakbola Italia Dan Inggris. Sebagian besar pemain sepakbola akan mengingat perjalanan karirnya dengan cara menulis

Sinopsis Buku "The Italian Job", Pandangan Gianluca Vialli Atas Sepakbola Italia Dan Inggris
Sinopsis Buku "The Italian Job", Pandangan Gianluca Vialli Atas Sepakbola Italia Dan Inggris

MPOTIMES - Sinopsis Buku "The Italian Job",  Pandangan Gianluca Vialli Atas Sepakbola Italia Dan Inggris. Sebagian besar pemain sepakbola akan mengingat perjalanan karirnya dengan cara menulis buku autobiografi. Namun tidak dengan Gianluca Vialli. 

Pada saat pemain sepakbola lain memutuskan untuk memposisikan dirinya sebagai pusat cerita, Vialli memilih untuk menceritakan mengenai dua negara, tempat ia menghabiskan sebagian besar karirnya, Inggris dan Italia.

Apapun keinginan Vialli untuk tak mengikuti tren atlet sepakbola lainnya -bahkan Theo Walcott telah merilis otobiografi di umur 23 tahun- keuntungan bisa jadi untuk pembaca. 

Melalui "The Italian Job" (bukan The Italian Job 2003), Vialli yang didukung oleh seorang jurnalis penuh reputasi asal Italia, Gabriele Marcotti, dapat mengulas dengan baik kultur kedua negara yang dikenal gila bola dan memang mempunya budaya yang sangat bertolak belakang, khususnya di bidang sepakbola.

Sinopsis Buku "The Italian Job",  Pandangan Gianluca Vialli Atas Sepakbola Italia Dan Inggris (Kumparan.com)

Vialli sendiri bisa dibilang sebagai sosok yang tepat untuk menceritakan kisah dan membandingkan budaya Inggris dan Italia.

Hijrahnya ke negara Ratu Elizabeth tersebut pada masa 90-an terjadi saat Inggris masih berada di masa kejayaan Premier League. Pada waktu itu, para manajer, pemain, serta pemilik yang berasal dari luar Inggris masih sangat sedikit, sehingga sepakbola Inggris masih sangat kental nuansa british nya. 

Artinya, Vialli memiliki pengalaman yang sangat mendalam mengenai Inggris yang masih sangat kuat dengan budaya sepakbola yang terbangun nyaris 100 tahun. 

Sedangkan di Italia, Vialli memperkuat dua tim raksasa di awal era 90-an, yaitu Sampdoria dan Juventus, pada saat Serie-A tengah berada di puncak keemasannya.

Ia bermain dalam liga yang sama dengan para pemain besar sepakbola di muka Bumi kala itu seperti, Platini, Maradona, juga trio Frank Rijkaard, Ruud Gullit, Marco Van Basten yang memperkuat AC Milan, serta para pemain terbaik Italia seperti Roberto Baggio, dan Franco Baresi.

Sinopsis Buku "The Italian Job", Pandangan Gianluca Vialli Atas Sepakbola Italia Dan Inggris (fanpage.it)

Ya, dalam perjalanan karirnya, Vialli sudah mengalami berada di kiblat sepakbola Inggris dan Italia. Maka tidaklah aneh apabila benturan kultur tersebut mendorongnya untuk menulis catatan dalam format mini studi mengenai sepakbola.

Bahwa buku tersebut lalu mulai dituliskan pada medio 2004-2005 juga memperluas catatan Vialli dalam melakukan observasi. Vialli juga menuliskan pandangan-pandangan berdasarkan pada fase saat sepakbola telah menjadi industri di Inggris, sementara Italia tengah mengalami keterpurukan.

Rentang pengamatan inilah yang jadi salah satu keunggulan buku ini. Meski banyak fenomena yang dijelaskan adalah kultur yang telah berakar puluhan tahun (seperti dari mana asal permainan kick and rush Inggris dan tentang ketat dan kakunya akademi Italia), Vialli dan Marcotti tidak menghilangkan kekinian yang terjadi di kedua negara.

Sebagai contoh, mereka juga mewawancarai para pelatih yang menuai banyak kesuksesan di era 2000-an seperti Jose Mourinho, Fabio Capello, dan Arsene Wenger, dan melontarkan pertanyaan yang sering muncul di kepala penggemar.

Semisal: bagaimana Mourinho mengontrol ruang gantinya? Atau kenapa pelatih dari Inggris suka sekali dengan formasi 4-4-2?

Kata tanya "bagaimana" serta "kenapa" ini yang jadi kunci "The Italian Job". Kedua penulis buku tidak puas dengan sekedar mendaftar fenomena-fenomena sepakbola yang terjadi di kedua negara, tapi juga mempertanyakan dan melakukan observasi kenapa fenomena tersebut dapat terjadi. 

Maka tidak heran jika"why", "why", dan "why" menjadi kosakata yang disebutkan berkali-kali.

Sebagai pembanding, buku "Calcio: A History of Italian Football" yang ditulis oleh John Foot juga berkisah mengenai sejarah dunia sepakbola di negara Italia. Akan tetapi, saat membaca buku tersebut rasanya datar bagaikan membaca ensiklopedia terutama apabila dibandingkan dengan buku karya Vialli.

Pada buku The Italian Job, Vialli dan Marcotti juga tidak menceritakan terus menerus subjek mereka. Contohnya saja pada saat meneliti mengenai perbedaan genetis antara pemain sepakbola Inggris dan Italia (kenapa Inggris terkesan "atletis dan kuat" sedangkan pemain Amerika Selatan lebih "lentur").

Keduanya meletakkan perbedaan genetis pemain sepakbola tersebut pada konteks gen atletisme manusia secara detail, dan berani untuk membahas ke area yang sensitif semisal: pemain sepakbola kulit hitam dan pemain sepakbola kulit putih. 

Mereka bahkan mencoba menjawab kenapa olahraga yang menggunakan kekuatan dan kecepatan lebih dominan dimiliki oleh atlet keturunan Afrika.

Hasilnya merupakan sebuah buku yang kaya pengetahuan, menarik, dan coba menceritakan berbagai sisi dalam sepakbola dari sudut pandang dua negara: Italia dan Inggris. Seperti akademi, aspek pemain, media, pelatih, suporter, finansial, sampai soal wasit diceritakan secara mendetail oleh Vialli dan Marcotti.

Budaya Sepakbola Mana Yang Lebih Disukai Vialli Dalam The Italian Job?

Sinopsis Buku "The Italian Job", Pandangan Gianluca Vialli Atas Sepakbola Italia Dan Inggris (sportmediaset)

Karena budaya sepakbola Italia dan Inggris selalu dijadikan pembanding pada buku ini, maka sangat wajar apabila muncul sebuah pertanyaan pada saat membaca "The Italian Job": "Budaya sepakbola mana yang lebih disukai Vialli?"

Vialli kemudian memahami keresahan pembaca buku tersebut dan mencoba menjawabnya di bagian akhir buku. Tapi ia mengatasinya dengan jawaban yang terkesan aman. Pada paragraf terakhir, Vialli mengatakan kalau dirinya tidak mungkin memutuskan lebih memilih mana antara Italia dan Inggris, serta mustahil hidup tanpa berkarir sepakbola di kedua negara itu.

Namun jika jeli sebetulnya pembelaan Vialli atas budaya sepakbola Italia secara tersirat terlihat di berbagai segmen dalam buku tersebut. Dalam bab mengenai manajer maupun strategi juga terlihat bagaimana Vialli lebih kagum dengan budaya sepakbola Italia. 

Apabila masih merasa ragu, Dipilihnya "The Italian Job" menjadi sebuah judul buku tentu adalah petunjuk mengenai keberpihakan Vialli atas berbagai sisi negatif pada sepakbola Italia.

Namun sayang, apabila memang memilih untuk memihak budaya sepakbola Italia, ada dua masalah kultur Italia yang tak bisa dijawab Vialli dan Marcotti: Yaitu furbizia dan rasisme.

Seperti diketahui, Inggris dapat dibilang berhasil untuk mengatasi masalah rasisme di sepakbola. Mereka bisa menjalankan aturan sangat ketat mengenai larangan memakai kalimat atau kosakata yang cenderung rasis di dalam stadion, maka EPL sekarang terlihat bersih. 

Pada sisi lainnya, Italia tidak memiliki jawaban mengenai kasus tersebut. dans klub-klub Serie-A seringkali dikenai sanksi karena meneriakkan ejekan-ejekan yang menyerang pemain kulit hitam.

Vialli memang menyatakan jika segmen mengenai rasisme, dan sejumlah hal lainnya, tidak ia ulas, sebab bakal terlalu panjang. Padahal kalau ia bersedia, terdapat segmen dalam buku yang dapat ditukar dengan bab mengenai rasisme.

Sedangkan, furbizia memiliki arti sebagai "seni soal menipu". Dan pandangan mengenai dunia sepakbola Italia akan selalu dihubungkan dengan furbo, yang berarti kelicikan. Bahkan, furbizia juga diartikan sebagai bagian dari karakter dan filosofi dasar sepakbola Italia.

Namun sayang dari 400 halaman buku tersebut, Vialli dan Marcotti cuma menyampaikan jawaban, dan pembelaan, mengenai furbo di dua halaman. Itu juga dengan penjelasan yang sebetulnya sangat umum.

Bahwa poin dari sepakbola Italia yaitu meraih kemenangan, dan tidak semua pemenang telah menjalankan aturan. Dengan demikian, ungkap Vialli, sudah dari kecil atlet sepakbola Italia diharuskan untuk melindungi dirinya dengan melakukan hal "cerdik".

Padahal, hal mengenai furbizia sendiri jauh lebih luas dari sekedar licik atau tidak licik. Ini disebabkan furbizia juga berkaitan dengan perbedaan gaya orang Italia dan Inggris memandang aturan dan hidup, seperti dibahas Andrea Tallarita dalam esai-nya dengan judul "Understanding Italian Football".

Dalam soal seni menipu tersebut, meskipun menuliskan berbagai pembelaan, Vialli dan Marcotti masih terkesan "sungkan" untuk mengulasnya lebih jauh. Mereka berdua, masih berlindung pada persepsi yang umum saja.

Bisa saja masalah yang sebenarnya ada pada pemilihan partner Vialli dalam menulis. Gabriele Marcotti adalah jurnalis penuh reputasi, dengan style menulis yang sederhana, serta tulisannya selalu bersandar pada data dan riset. Ia juga menempuh pendidikan di Amerika dan pernah lama hidup di Inggris. Namun tetap saja ia orang Italia.

Mungkin apabila Vialli memilih partner menulis seorang jurnalis dari Britania Raya, semisal Oliver Kay (The Times) atau Henry Winter (Telegraph), maka pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bakal jauh lebih berani. Lebih lugas dan brutal dalam menilai yang hitam dan putih.

Atau, minimal seorang jurnalis Inggris dapat melakukan pembelaan mengenai penilaian yang diutarakan Vialli dan Marcotti tentang budaya sepakbola Inggris.