Soto Daging Rahayu Malang, Warisan Budaya sejak Zaman Kolonial

Soto Daging Rahayu sebagai salah satu kuliner kota Malang yang sudah berdiri sejak 1928. Soto daging yang berada di Gang 7, Mergosono, Kedungkandang, Kota Malang, merupakan kuliner legendaris yang patut dicoba.

Soto Daging Rahayu Malang, Warisan Budaya sejak Zaman Kolonial
Soto Daging Rahayu Malang, Warisan Budaya sejak Zaman Kolonial

MPOTIMES - Soto Daging Rahayu sebagai salah satu kuliner kota Malang yang sudah berdiri sejak 1928. Soto daging yang berada di Gang 7, Mergosono, Kedungkandang, Kota Malang, merupakan kuliner legendaris yang patut dicoba.

Rasa yang disuguhi soto daging ini benar-benar renyah dan memprioritaskan nuansa rempah yang demikian kuat. Warung soto legendaris di Malang yang punyai banyak sejarah.

Soto Daging Rahayu Malang sudah ada sejak tahun 1928 atau saat Indonesia masih dijajah Belanda. awalnya Soto Daging Rahayu Malangdirintis oleh Bu Supriatun ditolong suaminya, Pak Saidi. Usaha ini bukanlah tanpa perjuangan. Mereka keliling menawarkan soto secara diam-diam. Bertahun lama waktunya mereka jualan sembunyi-sembunyi. Penjajah larang mereka jualan soto daging, cuman bisa menawarkan soto tempe.

Saya belum pernah rasakan sajian soto dengan bahan khusus tempe. Tetapi kemungkinan rasanya cukup sedap dan buat suka. Faktanya usaha Bu Supriatin dan Pak Saidi dapat bertahan sampai lewat Jaman Kemerdekaan.

Soto Daging Rahayu Malang, Warisan Budaya sejak Zaman Kolonial

Sesudah menawarkan soto keliling sepanjang satu tahun, Pak Saidi memilih untuk tinggal dalam suatu kios yang dia membeli. Lokasinya di Pasar Besar, tepat di muka Toko Santosa.

Menunya yang dijajakan tetap sama, Soto Tempe. Sama seperti yang disebut awalnya, harga daging lumayan mahal sampai tidak seluruhnya kelompok dapat beli. Apa lagi Pemerintahan Belanda memang secara tegas melarang jualan soto daging.

Soto Daging Rahayu Malang, Unik Masak Nasinya Masih Pake Dandang Kuno (Foto; media-cdn.tripadvisor.com)

Baca Juga :  Soto Ayam Lombok, Uniknya Asli Malang Bukan Lombok!

Baru sesudah masuk jaman kemerdekaan, angkatan penerus Pak Saidi pada akhirnya dapat menyuguhkan ‘The Real Soto' alias soto yang sebetulnya, dengan bahan daging sapi. Pengunjung lalu banyak yang datang, cukup banyak sebagai konsumen setia.

Soto Daging Rahayu Malang menghabiskan tidak kurang dari 15 kilo daging sehari-harinya. Selainnya rasanya nikmat, porsinya yang dihidangkan jumbo alias agak banyak. Warung ini lalu jadi jujugan beberapa wisatawan atau masyarakat Malang yang ingin nikmati satu mangkuk soto hangat.

Perjalanan Soto Daging Rahayu

Pengelola Soto Daging Rahayu Malang saat ini, Hj. Puji Astutik, menjelaskan jika sepanjang jualan soto ada beberapa sukai duka yang dirasakan.

Figur yang dekat dipanggil Hj. Tutik itu akui semua tidak semulus jalan tol. Kakek neneknya harus jatuh bangun menjaga usaha dan warung mereka.

Soto Daging Rahayu sempat seringkali berpindah lokasi. Tetapi hal itu tidak membuat Hj. Tutik dan putrinya, Yessy, berserah dan stop jualan. 2x mereka alami rugi besar karena kebakaran Pasar Besar, sampai menghanguskan warung soto. Tetapi ke-2 nya selalu sanggup bangkit kembali. Kemauan jaga usaha temurun ini demikian kuat.

Antara 1945 sampai 2017 Soto Daging Rahayu buka warung di Pasar Besar Malang. Banyak sekali konsumen yang menjadi konsumen setia. Karena hasil pemasaran soto, HJ. Tutik sukses membuat rumah sendiri dan melakukan beribadah haji.

Pasar Besar sempat dirundung kebakaran besar di 2015. Bencana ini menghanguskan banyak lapak dan pemasaran soto lalu melorot tajam. Hj. Tutik mulai kekurangan modal. Tahun 2017 dia pada akhirnya putuskan mengubah upayanya ke rumah tinggalnya di Jl. Mergosono Gg.7, Malang.

Soto Daging Rahayu, Pertahankan Resep Turun-temurun

Bertahan lebih dari 90 tahun pasti sebagai prestasi mengagumkan. Apa lagi di tengah-tengah perubahan kuliner yang semakin cepat. Soto Daging Rahayu Malang bisa dibuktikan sanggup mememenangkan hati konsumen setia, di tengah-tengah ketatnya kompetisi usaha soto di Malang.

Salah satunya kunci keberhasilan itu ialah rasa yang tetap stabil. Kata orang, rejeki itu tidak akan terganti. Berualan di mana saja, bila sudah rejeki tentu tidak akan kekurangan konsumen setia. Hal itu berlaku pada Soto Daging Rahayu Malang.

Bila disaksikan dari factor lokasi, tempat jualan mereka sekarang ini memanglah tidak vital. Tetapi ternyata telah ada beberapa konsumen setia yang terlanjur jatuh hati pada soto daging nikmat bikinan Hj. Tutik.

Baca Juga : Resep Pallubasa Makassar ala Rumahan, Praktis Banget!

Mereka ikhlas tiba ke Mergosono cuman untuk nikmati beberapa mangkok soto, dengan keluarga atau famili. Warung sot ini menunjukkan jika rasa memang tidak pernah berbohong.

Porsi nasinya besar dan potongan dagingnya banyak. Tiap mangkok ada empat irislah telur rebus, bawang goreng, dan koya sebagai pendamping. Asyiknya kembali soto ini dilenkapi dengan sayur (kecambah), yang membuat gizinya makin komplet," ujarnya.

Kritis ekonomi sempat memang jadi pukulan untuk beberapa pebisnis, tidak kecuali Hj.Tutik. Arang yang awalnya jadi bahan bakar khusus untuk mengolah soto, harus harus ditukar dengan gas elpiji. Harga arang saat itu bertambah tajam, membuat ongkos produksi semakin membesar.

Untungnya, pemakaian elpiji tidak membuat rasa soto daging berbeda. Bumbu-bumbu rempah yang dipakai masih tetap jadi kunci khusus. Rasanya masih orisinal dari angkatan ke angkatan.

Bawang goreng dan koyanya berlainan, memberinya rasa sensasi unik. Lain dengan warung soto yang lain, koya Soto Daging Rahayu dibuat dari kelapa yang digongso dengan bumbu rempah nikmat.

Soto Daging Rahayu Malang, Warisan Budaya sejak Zaman Kolonial (foto; risetcdn.jatimtimes.com)

Soto Daging Rahayu Selalu Mengutamakan Kepuasan Konsumen

Servis menjadi salah satunya factor kunci yang Soto Daging Rahayu Malang 1928 masih tetap exist sampai sekarang. Keramahan Hj. Tutik dan keluarga membuat konsumen setia selalu ingat warung ini bila ingin makan soto.

Tidak cuma dari Malang, ada beberapa pelancong luar kota yang ikhlas tiba ke warung nyelempit ini. Walau tempatnya sangat simpel dan tidak ber-AC, konsumen setia tidak lalu kabur cari tempat baru. Sambutan ramah dari Mbak Yessy dan Hj.

Tutik membuat customer berasa seperti keluarga sendiri. Apa lagi beberapa konsumen setia dikenankan menambahkan kuah dan koya sesuai dengan selera.

Usaha tanpa promo tidak akan dapat sukses. Langkah Soto Daging Rahayu Malang layani konsumen setianya bak raja membuat mereka tidak cuman berasa kenyang, tetapi senang.

Tanpa disuruh, beberapa konsumen lalu mempromokan warung Soto Daging Rahayu secara getuk tular (dari mulut ke dalam mulut). Baik lewat narasi, sosial media, atau tulisan.

Beberapa konsumen setia ini jadi sekaligus ujung tombak promo Soto Daging Rahayu. Tidaklah aneh bila warung ini demikian populer dan menjadi legenda.

Baca Juga : Bumbu Rahasia Soto Padang, Ini Resepnya!

Soto Daging Rahayu, Harga Murah Kualitas Mewah

Awalnya Hj.Tutik jual satu mangkuk soto dengan harga Rp.20.000. Tetapi sejak berpindah ke Jl.Mergosono, dia wajib melakukan rekonsilasi dengan keadaan lingkungan dan daya membeli warga sekitaran. Sekarang, cukup dengan modal Rp10.000 konsumen setia bisa melahap satu mangkuk nasi soto yang menjadi legenda.

Di jaman serba mahal saat ini, siapa sich yang tidak mau nikmati makanan nikmat tetapi murah? Factor ini menjadi salah satunya yang mengakibatkan beberapa konsumen terus setia nikmati soto racikan Hj. Tutik.

Yessi Indrawati, putri Hj. Tutik, sebagai angkatan keempat penerus Soto Daging Rahayu. Yessi juga betul-betul jaga supaya rasa soto tetap sama. Satu diantaranya dengan pilih daging berkualitas sebagai bahan khusus. Dia memahami benar jika kesegaran daging akan memengaruhi rasa.

Sehari-harinya Yessy akui habiskan 1,5 kilo daging sapi untuk keperluan warung. Memang tidak banyak, tetapi tiap rejeki yang tiba selalu dia sukuri.

Tiap hari, kata Tutik, usaha kulinernya itu habiskan sekitaran 60 kg arang. Dalam kata lain, ia harus keluarkan uang sekitaran Rp 300 ribu setiap harinya untuk arang. Dalam pada itu, gas cuman habiskan uang sekitaran Rp 18 ribu untuk 2 hari.

Dengan penggantian cara itu, Tutik tidak menolak ada peralihan rasa pada soto dagingnya. Tetapi, ia pastikan kulinernya itu nikmat dan renyah untuk dimakan. Apa lagi, ia meneruskan, pembikinan nasi putihnya masih memakai langkah tradisionil, yaitu menggunakan riasg.

Sementara dari sisi daging, Tutik sekarang perlu sediakan sekitaran satu sampai dua kg setiap harinya. Jumlah ini semakin sedikit dibanding saat dianya jualan di Pasar Besar, yaitu 11 kg setiap hari. Meskipun begitu, Tutik memperjelas, pemasaran soto dagingnya selalu habis tiap hari.

Baca Juga : Coto Makassar, Ternyata Kuahnya Pake Air Tajin, Cobain Yuk!

Selanjutnya, dari faktor harga, Tutik kuranginya dari Rp 12 ribu jadi Rp 10 ribu per porsi. Keputusan ini dibikin karena dianya sesuaikan dengan beberapa konsumen yang sekarang umumnya dari pemukiman masyarakat sekitaran.

Nah itu tadi ulasan singkat tentang Soto Daging Rahayu Malang, Warisan Budaya sejak Zaman Kolonial. Simak juga artikel menarik lain tentang soto lamongan, resep tongseng, ikan bakar, dan jamu di halaman utama. Selamat membaca!