Usai Dipolisikan dari Buntut Kritik Pidato Jokowi, Greenpeace Buka Suara

Asep Komarudin selaku Juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia, mengatakan iklim demokrasi Indonesia telah dirusak. Hal itu disebabkan langkah Sekjen Komite Pemberantasan Mafia Hukum Husin Shahab yang telah mempolisikan dua anggota Greenpeace karena mengkritik pidato Presiden Jokowi.

Usai Dipolisikan dari Buntut Kritik Pidato Jokowi, Greenpeace Buka Suara
Usai Dipolisikan dari Buntut Kritik Pidato Jokowi, Greenpeace Buka Suara

Asep Komarudin selaku Juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia, mengatakan iklim demokrasi Indonesia telah dirusak. Hal itu disebabkan langkah Sekjen Komite Pemberantasan Mafia Hukum Husin Shahab yang telah mempolisikan dua anggota Greenpeace karena mengkritik pidato Presiden Jokowi.

Asep berpandangan, sebuah kritik tidak seharusnya ditanggapi dengan melaporkan ke kepolisian, melainkan dengan dialog.

"Pelaporan seperti ini merusak iklim demokrasi, seharusnya kiritik terhadap pemerintah tidak di tanggapi dengan laporan polisi," kata Asep kepada CNNIndonesia.com, Minggu (14/11).

Meski begitu, Asep mengaku pihaknya siap menghadapi pelaporan tersebut. Ia menegaskan data yang telah disampaikan oleh Greenpeace ke publik merupakan data yang valid.

"Kami akan hadapi laporan ini meski saat ini kita sedang dalam krisis iklim yang membutuhkan aksi nyata dari pemerintah ini yang lebih utama yang membutuhkan perhatian dan aksi nyata ketimbang lapor melaporkan," kata dia.

Ketua Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak yang juga sebagai terlapor turut membantah bahwa data yang dipaparkan oleh pihaknya tidak valid dan hoaks. Bahkan, kata Leo, data tersebut dikeluarkan oleh KLHK sendiri.

"Jadi data data deforestasi itu kami gunakan data resmi, KLHK sendiri," kata Leo kepada CNNIndonesia.com, Minggu (14/11).

"Bahwa kami menyampaikan pandangan kami berdasarkan interpretasi kami, pendekatan yang kami lakukan itu adalah hak intelektual kami. Kita bisa memandang persoalan dengan data yang sama dari berbeda sudut kan," imbuhnya.

Leo menjelaskan, Greenpeace memakai pendekatan moratorium izin hutan di tahun 2018. Kemudian pihaknya menggunakan perbandingan 8 tahun ke belakang.

Pihaknya melihat, dalam rentang waktu 8 tahun sebelum dan 8 tahun sesudah moratorium justru terjadi peningkatan deforestasi. Padahal, kata dia, jika moratorium diberlakukan seharusnya deforestasi menurun.